Kamis, 20 Oktober 2022

TERLALU LAMA

 Ih gokil udah 4 tahun gak nulis,lama juga yah butuh waktu selama itu untuk move on dan kembali menulis. jika tulisan kali ini masih tak rapih maka wajar saja, hidup sedang jauh tak baik baik saja, tenang kali ini bukan perihal cinta cintaan,hatiku sudah jauh lebih aman bersama orang yang tepat.

kali ini tentang pekerjaanku, sejak tulisan terakhirku pekerjaanku hari ini masih sama, bukan pekerjaan yang ku harapkan namun pekerjaan yang ku jalani karna mungkin sudah kehendaknya sang kuasa, kadang menyesal amat sangat dengan pekerjaanku saat ini,pekerjaan yang setiap hari aku harus belajar,pekerjaan yang bayarannya tidak pernah sepadan, tapi aku sempat berbahagia menjalaninya, karena lingkungan yang amat sehat, setiap hari selalu ada canda tawa dari lingkungan kerja,

sampai setelah 3 tahun semua berubah menjadi bencana, lingkungan yang tidak sehat,saling sikut sana sini,tawa jadi amarah dan luka yang berujung pindah, meski pindah di satu atap yang sama namun dengan kepemimpinan yang berbeda,aku fikir jalan akan lebih baik,namun bak memasuki kampung yang jauh tertinggal, jalannya makin berat,medan yang di lalui terlalu terjal,menanjak yang kemudian berkelok,sudahlah susah harus pula mematahkan banyak harap.

kadang aku berfikir,kenapa aku bisa kesini hingga hari ini,lilin di luar sana jauh lebih terang sedangkan aku disini sangat redup,bahkan hampir padam. meski aku tak tahu bagaimana lilin di luar sana bisa menyala dengan begitu terangnya,dan bagaimana usaha untuk menyalakannya sehingga begitu terang benderang,dan saya selalu berfikir kapan ini akan berakhir,akankah sampai tua akankah esok berahir,ah entahlah sepertinya pindah menjadi alasan yang tepat,tapi bukankah moveon menjadi sebuah langkah yang susah,bukan enggan tapi bagaimana caranya? 

Saya yakin sang kuasa sedang menyiapkan ceritanya untuk hari esok,entah akan lebih baik,atau justru ujiannya yang semakin berat,bisakah saya melaluinya atau mental ini yang akan menyerah.



cita cita menua di sebuah desa yang tenang masih dalam impian,apakah pekerjaan ini akan mengarahkan saya ke impian itu,ataukah itu hanya sebuah mimpi yang harus terkubur bersama raga nantinya?

Selasa, 16 Januari 2018

Memory, Kepergian, Dan Mengikhlaskan

Pagi buta ku terbangun oleh suara sang ayah,ia tidak membangunkan ku tapi memberi tahu ada seorang wanita yang membawa memory card ku,tanpa aku fikir panjang langsung saja aku terbangun dari pagi yang sebenarnya semalam habis bergadang.
aku kira aku akan melihat sosokmu untuk yang terahir kali,ternyata setelah ku terbangun dan bertanya,ayah mana wanita itu,ayah menjawab, tadi malam dia kesini bukan sekarang,ah panik sudah,fikiranku bercabang memikirkan mu dan tentang kita,lalu aku bertanya kembali ke ayah karena penasaran apakah dia memakai kurir,atau seperti apa,ayahku mengatakan "itu loh yang tinggi,putih,cantik,yang pernah ke rumah", ah fikirku sudah tau pasti itu kamu,lantas kapan ia kesini pah? beliau menjawab,semalam sesaat tak lama aku pergi menuju seorang rumah sahabat yang cukup jauh pada malam itu.

Entah ingin marah,kesal dengan diri sendiri,semua bercampur aduk menjadi benci dengan diri sendiri,kenapa aku tak berdiam diri semalam di rumah,dan memutuskan untuk keluar. Ah sudah lah mungkin ini memang sudah rencana yang maha kuasa untuk tidak mempertemukan kita malam itu.

Hingga sampai ku tulis cerita ini aku masih belum tau kenapa kamu memutuskan untuk meninggalkan dunia sosial mu,dimana hanya dari sana aku bisa tahu kabar mu,kau memutuskan untuk menghilang dari peradaban. Ya kini instagram mu tak pernah lagi ku lihat story manis mu yang lucu muncu muncu,yang selalu menjulurkan lidah apapun story mu,kau off kan whatsapp mu yang selama ini menjadi sarana komunikasi kita,meski aku yang terlalu antusias ketika membalas semua pesan pesan itu,yang jarang sekali kau tanggapi.

Dan pada akhirnya aku juga yang harus sadar,bertahan,dan mengikhlaskan,bahwa sebenarnya memilikimu hanyalah sebuah ilusi belaka,sebua kesemuan yang tak pernah ku sadarkan. Mungkin aku yang berlebihan,aku harus mengikhlaskan,mungkin ini saatnya aku bergerak,meninggalkan semua,memulai semua dari awal,membangkitkan mimpi mimpiku yang tertidur lelap karna egoku yang terus mencari sosok siapa yang akan menemani perjalanan ku,buatku sekarang berjalan sendiri pun tak masalah,daripada berdua namun hanya perasaan ku yang sendiri.

Rabu, 10 Januari 2018

KESALAHAN KU

Pernah bahagia kita merekah indah, tanpa sedikitpun gelisah.
Saat lantunan rindu adalah alasan tiap pertemuan, saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan.
Semurung mendung sederas hujan, mimpiku memuai hebat adanya ketiadaan.
Aku tak pernah menyesal atas keputusanmu memilihnya, yang aku sesalkan adalah tidak ada sedetikpun kesempatan bagiku membuatmu bahagia.
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu..
Waktupun mengurangi tetesan hujan, menjadi bulir-bulir kenangan.
Ia menelusuk tanpa permisi membasahi nurani.
Merangkat naik menyusun kata yang dibicarakan oleh pelupuk, memaksa mata bekerja mengeluarkan kalimat penuh derita.
Degup jantung menyatu detik, menyuarakan penyesalan yang runtuh menitik.
Bukan perih yang aku ratapi, tapi pengertian yang tak pernah kau beri.
Sadarlah... aku telah mencintaimu dengan terengah-engah.
Mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang aku izinkan mengisi setiap rongga.
Menghempas darah dengan namamu yang mengalir membuat jantungku berirama.
Padamu aku jatuh hati.. bahkan sebelum tuhan merencanakan adam dan hawa diturunkan ke bumi.
Kesalahanku, tak pernah mencintaimu selain kamu...
Tingkat sepi paling mengerikan adalah sepi dalam keramaian, mengulik rasa secara primitif dan tak pernah mengenali dunia yang telah jauh mengalami perubahan
Bagaimana mungkin aku menjauh, jika hanya padamu keangkuhanku meluluh?
Bagaimana mungkin aku pergi, jika bayanganmu masih saja menghiasi mimpi?
Bagaimana mungkin aku berpindah, jika hanya padamu hatiku bersinggah?
Kesalahanku, isi doaku tak pernah selain dirimu..
Cinta tak selamanya tentang kepemilikan, tapi cinta adalah tentang keikhlasan.
Terima kasih untuk segala rasa..
Kesalahanku adalah tak pernah merasa, bahwa untuku kau tak pernah punya cinta.

Senin, 01 Januari 2018

Bersatulah Kaum Patah Hati

Kepada yang lemah raganya juga remuk hatinya..

Mungkin sekarang kau sedang berdiam di kostan sembari menatap tugas dan laporan yang berjam-jam kau biarkan menumpuk tanpa ada niat mengerjakan. Mungkin juga kau sedang keluar rumah sekedar mencari udara segar untuk mengisi rongga hatimu yang lama berdebu. Atau mungkin saja kau malah sedang sibuk mengurai perintah bos demi gaji per bulan yang seringnya habis tanpa bisa kaujelaskan. Apapun yang sedang kau lakukan, berusahalah untuk menjaga konsentrasi, sebab sekali saja kau lengah dan memutuskan membuka sosial media, hancurlah kau digilas kenyataan dari masa-masa terlewatkan.


sebuah senja berujung luka

Bagaimana tidak? Seseorang yang dengan merdunya sering mengeluh manja itu kini semakin gencar memberitahu dunia akan kebahagiaannya. Lewat pose ngelendot lucu muncu-muncu di bahu, selfie di pantai dengan bias kekasih baru di kacamata yang seakan-akan tidak sengaja, atau foto resmi gaya lembar ijazah dari sang lelaki dan sang perempuan yang ditata sebelahan di meja kantor dengan bumbu caption mau menikah. Ya, seseorang yang pernah kau antarkan ke burjo malam-malam, menemani dia belanja dari pagi buta, mengelus punggungnya saat homesick itu kini tengah tersenyum menuju mahligai rumah tangga.

Kepada yang utuh namun rapuh tegar tetapi hambar..

Sedang apa? Sudah makan? Semalam tidur jam berapa? Nanti ada waktu? Jangan sibuk banget ih! Mau ketemu, aku rindu! Tidak, kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa rutinitas di pesan masuk ponselmu itu sudah musnah. Kau hanya bisa membacanya sebagai kesombongan semu yang kau gunakan untuk menjawab pertanyaan teman-teman. Mau seakrab apapun kau kini dengan mantanmu tetap saja dia sudah bukan milikmu, mau serenggang apapun hubunganmu sekarang tetap saja dulu dia yang paling kau sayang. Ikhlas belum bisa, balikan takut binasa.

Kau mulai menuju kafe atau kedai kopi atau pasar malam atau antrian BPJS atau apapun itu asal ramai dan bisa meredakan sepi di benakmu saat ini. Karena ke gunung kau malas packing, ke pantai kena panas langsung pusing, ke luar negeri belum fasih berbahasa asing. Tragis. Setiap ruang ingin kau jelajahi lebih jauh, berharap temukan keajaiban yang membuat sakit hatimu sembuh. Namun apa daya, jelajah langkahmu hanya membawamu kembali ke rentetan panjang memori. Depan gerbang kostan yang menampung keriyaan sehabis menikmati konser, atap toko yang kau gunakan untuk berteduh sehabis menonton film di bioskop, juga sekre hima/unit yang jadi saksi kangen-kangenan berkedok tanya jawab basa-basi tentang kepanitian. Kau tidak bisa pergi, kenangan itu akan terus menyapamu lagi dan lagi.

Kepada yang pingine move on malah mati alon-alon..

Begitulah beberapa contoh secuil kisah dari hati yang belum mampu berpindah. Satu masa yang justru selalu kita hindari. Kita lupa untuk menikmatinya, kita terlalu sibuk menolak semua hal yang merenggut bahagia. Santai saja, aku pun turut merasakan hal yang sama. Bingung mau kemana, membuka sosial media hanya cemburu yang menyapa, mendekati sosok baru tak tahu harus memulai dari mana. Payah! Tos dulu lah! :')

Namun pernahkah kau membayangkan suatu hari penantianmu akan berhenti, doa-doamu terkabul, sosok itu datang dan jauh lebih baik dari semua khayalanmu selama ini. Datang dengan kesopanan, membawa ketentraman, memelukmu dalam rasa nyaman. Seikat bunga? Seladang penuh dia persembahkan wanginya! Kau mengusap matamu terus menerus hingga kelopak matamu perih oleh bahagia. Dia nyata, benar-benar nyata! Sakit di hatimu sembuh, hidupmu kembali utuh. Langit berubah merah muda, menaungimu dalam kelembutan awan, kemudian jatuh lewat tetes demi tetes senyuman. Asyik ya?

Asyik ndasmu.

Memangnya kamu sudah merasa pantas mendampingi dia? Mandi saja malas, kamar berantakan, tissueberserakan. Begitu yang namanya siap? Setelah resmi yang-yangan kau dan dia akan berbagi muka di setiap unggahan sosial media loh, memangnya kamu sudah siap menurunkan gengsi? Sungguh suatu hal yang menyebalkan bila setelah berpasangan namun yang kau unggah tetap selfie-selfie goda sana sini. Asli. Ingat;Irama akan merdu jika ada keteraturan, kematangan komposisi, juga musik yang berpadu serasi. Kamu? Sudahkah berpadu dari pikiran, tubuh, sampai perasaan dalam keserasian harmoni lewat komposisi matang tanpa bayang-bayang?

Maka bersatulah kaum patah hati. Sebelum matahari meruntuhkan mendung di matamu, ingatlah kita pernah sama-sama bingung menentukan hidup kemana harus menuju. Jangan lupakan orang-orang yang selalu ada di setiap kau meneteskan air mata. Berterima kasihlah kepada para musisi atas lagu-lagu sendu ciptaannya yang tak pernah absen mengisi sepi. Cium tangan para barista yang lewat racikan kopinya membuatmu mampu melewati hari tanpa perlu minder akan pahit yang hinggap di hati. Peluk erat buku-buku kesayangan yang setiap kata bijaknya membuatmu bisa sejenak menunda luka. 

Karena suatu hari yang pergi akan digantikan, 
saat lalu telah kau ikhlaskan dan hatimu dipenuhi kesiapan.

Kepada kita semua, mari bersulang lara, mari berbagi tawa... 

Sabtu, 30 Desember 2017

Jatuh Cinta Diam-Diam

Kamu tahu apa yang aku rasakan sekarang,pasti tidak.
Karna apa yang kurasa hanya aku yang tau.
Aku sedang merindu mu,rindu yang tercipta tapi tak pernah terucap.
Jatuh cinta diam diam,mungkin itu hal yang tepat untuk kelakuan ku sekarang.
Tak tahu sampai kapan,akan kah ku ungkapkan,atau hanya akan tersimpan dalam kenangan,sampai kau ahirnya bertunangan.
Ya,tapi bukan denganku.
Apakah mata ini hanya akan menyaksikan mu bahagia,tapi bukan dengan ku?
Atau telinga ini mendengar kau ucapkan cinta,tapi bukan kepadaku?
Entah lah,quotes yang kau petik dari fiersa besari sangat mudah "jika rindu katakan" tapi entah lah bibir ini sulit mengucap apa yang aku rasa.
Sebenarnya diri ini sudah berhenti berharap akan hadirnya dirimu,bukan karena tak cinta,namun aku harus sada aku ini siapa dan tak berwajah tampan,aplagi memberimu rasa nyaman,namun aku terus berusaha keras,sms yang tak terbalas,telfon yang kau jawab pedas, sebenarnya sudah mengutarakan apa isi hatimu.
Ya,bahwa sebenarnya aku adalah gangguan dalam hidupmu.
Tapi namanya juga cinta,gak bakal pernah bisa pake logika.
Namamu lah yang slalu ku ucap pada akhir doa,namamu lah yang selalu aku pinta agar kesehatannya terjaga.
Aku yakin cepat atau lambat,pahit atau manis,segera akan terkuak apa jawabannya.
Hati yang menanti,kadang memang selalu saja terluka,kamu tuh antibiotik aku,penghilang rasa demam akan rindu yang hanya bisa tertahan dalam ruang kekosongan.
Meski pada ahirnya aku tau semua akan biasa saja,setidaknya aku berusaha meski kau tak pernah peka.
Namanya juga jatuh cinta diam diam,apapun yang ia lakukan aku hanya terdiam,menatap dengan lirih kebahagiaannya dengan sahabat karibnya,jika aku adalah sahabat kenapa kau tak mendekat,jika kau memang ada rasa,mengapa tak kau ungkap cinta,kau malah menjauh,mengabaikan aku tanpa kejelasan yang berbatas dinding sepi ini.
Sampai ku tulis semua ini,aku pun masih mencintaimu dalam diam,dalam sunyinya mencintai tanpa tau apa yang kau rasakan,jika cinta memang se sakit ini,maka izinkan aku untuk pergi.
-aditya 31/12/2017-

Jumat, 29 Desember 2017

PESAN KU

Bila kau sedang dekat dengan seseorang, menjadi yang pertama dikabari saat dia sedang ada masalah, menjadi saksi berbagai prestasi yang tak henti dia ceritakan, atau menjadi kawan penghabis waktu dari senja hingga ufuk rindu, maka ketahuilah bahwa hatimu sedang berada dalam bahaya. Lewat tulisan ini aku hadir bukan untuk menyelamatkanmu, melainkan membawa kesadaranmu menyelami luka lebih dalam. Sebab kedekatan sering kali mematikan nalar, membius lewat kenyamanan, membunuh lewat pujian. Ketahuilah, sekali pun dia tak pernah menginginkanmu. Dia hanya benci sendiri, keangkuhannya butuh ditemani, dan hatinya butuh disanjung atas berbagai kisah perih yang pernah dia lewati.

Senja menjemput malam, hati menjemput kelam.


Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?




Mari kita telaah lebih jauh. Suatu hubungan indah bila yang terjadi adalah saling, bukan sekedar yang paling. Kau dan dia sadar untuk menjalani peran dengan aktif dan partisipatif. Setiap cerita, kejadian, gagasan, mimpi, pencapaian, hingga lelah seharian, kau dan dia bergantian mengisi kesepian. Saat menangis, tertampunglah air mata. Begitu pula saat bahagia, terbagi dengan bijaksana. Tidak ada yang berlebihan. Semua terbagi secara optimal tanpa mengerdilkan potensi hangatnya kebersamaan.



Lalu bila kau ketahui tidak pernah ada kesempatan sama saat kau dan dia duduk di satu meja, sudah sepantasnya kau bunyikan sirine tanda bahaya. Berjam-jam kau dengarkan keluh kesahnya, menanggapi hal-hal asing yang sebenarnya kau tak begitu peduli, membawanya ke tempat-tempat menenangkan, memberi rasa aman, menyiapkan jaket saat dia kedinginan, antar jemput kostan tepat waktu, hingga melewatkan pertemuan besar hanya untuk dia seorang. Iya, untuk dia yang bahkan sekali saja kau mencoba membuka topik tentang dirimu dia langsung mengalihkan ke pembahasan lain! Gila, sengeri inikah kau mendamba hati yang belum tentu bisa kau miliki?



Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?



Begini, tahan dulu emosi. Coba buka rentetan chatting-mu dengannya, baca. Siapa yang paling meledak-ledak saat menceritakan sesuatu? Berapa alinea perbandingan saat ada pembahasan? Siapa yang paling berdebar menunggu balasan hingga jeda bernapas saja jadi sebuah masalah? Dan siapa yang paling terpukul kala setiap pesan berganti tak pernah ditanggapi? Lihat baik-baik. Bila ada yang terlihat paling dominan, maka ada yang harus dilakukan. Ah, begini saja. Siapa yang meminta waktu lebih? Yang tak mau tahu urusan orang, pokoknya detik itu juga tidak boleh ada yang lebih penting dari dirinya. Siapa? Ayo, coba, siapa? Begitu ponsel berdering harus segera diangkat dan tidak boleh ada suara lain selain yang menelpon tersebut. Kau tahu itu siapa, kau tahu semua itu kenapa, kau tetap bertahan? Ya, kau sering menyebutnya cinta.



Saat kau dibutuhkan kau harus segera datang, ketika kau butuh pertolongan pesanmu seakan menghilang. Tidak lama kemudian kau temukan pesan berhias maaf dan ajakan ketemuan, atau minimal diminta menemani makan. Lagi-lagi kau harus mendengar ceritanya dan dengan dalih tak enak hati kau tetap setia untuknya. Saking seringnya kau ada untuknya sehari tak direpotkan seperti ada yang kurang. Kau mulai menanyakan kabarnya, dia tanggapi dengan menanyakan posisi, kau sudah siap berangkat, lalu dia menghilang lagi. Ini yang paling menyita logika berpikirku. Kenapa bisa ada seseorang yang mengajak bertemu, begitu sudah siap untuk ditemui, tiba-tiba dia tidak bisa dihubungi? Itu kenapa? Kok ada sih orang-orang yang memainkan khawatir sebegitu hebatnya?



Ambil kendaraanmu segera, terutama yang sering kau gunakan untuk mengantar jemput raganya. Telusuri semua tempat di kotamu. Lihat, di situ, iya, di kedai kopi, warung makan, cafe hits, angkringan, burjo, kantin kampus, tempat-tempat yang pernah kau sangka akan menjadi gerbang terbukanya hatinya untukmu itu hanya sekedar saksi bisu. Apa? Suap-suapan? Saling sentuh hidung? Cubit pipi? Membaca garis tangan masing-masing? Saling menatap lama sambil tersenyum? Senggol-senggol manja? Itu hanya ada di sekitarmu. Sudahlah. Dia hanya benci sendiri, bukan ingin dilengkapi.



Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan?



Bagaimana? Nikmat bukan rasanya bertahan dalam kesakitan? Mantap betul. Hebat loh itu hatimu bisa bertahan begitu lama menyaksikan tumbuh kembang sakitnya. Tunas muncul, bunga semerbak harum, matang buah sedap nan ranum. Kau yang merawatnya, menyirami setiap hari tanpa mengeluh, memupuk dengan sabar, membanggakan ke setiap orang, kau unggah di instastories, kau kicaukan di twitter, kau jadikan kebanggaan di Path, hingga tiba waktu panen, kau memetiknya namun bukan kau yang merasakan manisnya.



Dia tidak mencintaimu. Dia hanya sedang kesepian dan kebetulan ada kamu.


Nyatanya, bukan kau 'kan yang selama ini dia ceritakan sebagai kesayangan.

Rabu, 18 Maret 2015

ketulusan

segala sesuatu yang membuatmu bahagia telah ku lakukan untuk mu
demi sebuah harapan mendapatkan cintamu
tapi kini ku hanya berharap dalam malam yang gelap dan sepi,menunggu sesuatu yang tak kunjung datang
ku sadari semua yang telah kulakukan,membuat hatimu terpenjara dan tak kuasa diri ini membukanya
walau telah ku usahakan sekeras apapun ingin bersamamu,tapi kini kunci hatimu telah patah dan takkan bisa terganti
cinta memang terkadang tak harus selalu harus memiliki,cinta juga kadang tak harus saling menyakiti
dan diriku tak harus mencintaimu sampai mati
cinta memang tak selamanya harus bersama dan tanpa menyentuhmu cinta pun sudah terasa
tapi kini diriku hanya bisa membiarkan dirimu dalam bahagia,walau dirimu kini tak lagi disampingku
ku lakukan semua ini karna ini adalah ketulusan cintaku