Selasa, 16 Januari 2018

Memory, Kepergian, Dan Mengikhlaskan

Pagi buta ku terbangun oleh suara sang ayah,ia tidak membangunkan ku tapi memberi tahu ada seorang wanita yang membawa memory card ku,tanpa aku fikir panjang langsung saja aku terbangun dari pagi yang sebenarnya semalam habis bergadang.
aku kira aku akan melihat sosokmu untuk yang terahir kali,ternyata setelah ku terbangun dan bertanya,ayah mana wanita itu,ayah menjawab, tadi malam dia kesini bukan sekarang,ah panik sudah,fikiranku bercabang memikirkan mu dan tentang kita,lalu aku bertanya kembali ke ayah karena penasaran apakah dia memakai kurir,atau seperti apa,ayahku mengatakan "itu loh yang tinggi,putih,cantik,yang pernah ke rumah", ah fikirku sudah tau pasti itu kamu,lantas kapan ia kesini pah? beliau menjawab,semalam sesaat tak lama aku pergi menuju seorang rumah sahabat yang cukup jauh pada malam itu.

Entah ingin marah,kesal dengan diri sendiri,semua bercampur aduk menjadi benci dengan diri sendiri,kenapa aku tak berdiam diri semalam di rumah,dan memutuskan untuk keluar. Ah sudah lah mungkin ini memang sudah rencana yang maha kuasa untuk tidak mempertemukan kita malam itu.

Hingga sampai ku tulis cerita ini aku masih belum tau kenapa kamu memutuskan untuk meninggalkan dunia sosial mu,dimana hanya dari sana aku bisa tahu kabar mu,kau memutuskan untuk menghilang dari peradaban. Ya kini instagram mu tak pernah lagi ku lihat story manis mu yang lucu muncu muncu,yang selalu menjulurkan lidah apapun story mu,kau off kan whatsapp mu yang selama ini menjadi sarana komunikasi kita,meski aku yang terlalu antusias ketika membalas semua pesan pesan itu,yang jarang sekali kau tanggapi.

Dan pada akhirnya aku juga yang harus sadar,bertahan,dan mengikhlaskan,bahwa sebenarnya memilikimu hanyalah sebuah ilusi belaka,sebua kesemuan yang tak pernah ku sadarkan. Mungkin aku yang berlebihan,aku harus mengikhlaskan,mungkin ini saatnya aku bergerak,meninggalkan semua,memulai semua dari awal,membangkitkan mimpi mimpiku yang tertidur lelap karna egoku yang terus mencari sosok siapa yang akan menemani perjalanan ku,buatku sekarang berjalan sendiri pun tak masalah,daripada berdua namun hanya perasaan ku yang sendiri.

Rabu, 10 Januari 2018

KESALAHAN KU

Pernah bahagia kita merekah indah, tanpa sedikitpun gelisah.
Saat lantunan rindu adalah alasan tiap pertemuan, saat mencintaimu bukan hanya sekedar lamunan.
Semurung mendung sederas hujan, mimpiku memuai hebat adanya ketiadaan.
Aku tak pernah menyesal atas keputusanmu memilihnya, yang aku sesalkan adalah tidak ada sedetikpun kesempatan bagiku membuatmu bahagia.
Kesalahanku, menjadikanmu alasan segala rindu..
Waktupun mengurangi tetesan hujan, menjadi bulir-bulir kenangan.
Ia menelusuk tanpa permisi membasahi nurani.
Merangkat naik menyusun kata yang dibicarakan oleh pelupuk, memaksa mata bekerja mengeluarkan kalimat penuh derita.
Degup jantung menyatu detik, menyuarakan penyesalan yang runtuh menitik.
Bukan perih yang aku ratapi, tapi pengertian yang tak pernah kau beri.
Sadarlah... aku telah mencintaimu dengan terengah-engah.
Mencibir oksigen dengan menjadikanmu satu-satunya udara yang aku izinkan mengisi setiap rongga.
Menghempas darah dengan namamu yang mengalir membuat jantungku berirama.
Padamu aku jatuh hati.. bahkan sebelum tuhan merencanakan adam dan hawa diturunkan ke bumi.
Kesalahanku, tak pernah mencintaimu selain kamu...
Tingkat sepi paling mengerikan adalah sepi dalam keramaian, mengulik rasa secara primitif dan tak pernah mengenali dunia yang telah jauh mengalami perubahan
Bagaimana mungkin aku menjauh, jika hanya padamu keangkuhanku meluluh?
Bagaimana mungkin aku pergi, jika bayanganmu masih saja menghiasi mimpi?
Bagaimana mungkin aku berpindah, jika hanya padamu hatiku bersinggah?
Kesalahanku, isi doaku tak pernah selain dirimu..
Cinta tak selamanya tentang kepemilikan, tapi cinta adalah tentang keikhlasan.
Terima kasih untuk segala rasa..
Kesalahanku adalah tak pernah merasa, bahwa untuku kau tak pernah punya cinta.

Senin, 01 Januari 2018

Bersatulah Kaum Patah Hati

Kepada yang lemah raganya juga remuk hatinya..

Mungkin sekarang kau sedang berdiam di kostan sembari menatap tugas dan laporan yang berjam-jam kau biarkan menumpuk tanpa ada niat mengerjakan. Mungkin juga kau sedang keluar rumah sekedar mencari udara segar untuk mengisi rongga hatimu yang lama berdebu. Atau mungkin saja kau malah sedang sibuk mengurai perintah bos demi gaji per bulan yang seringnya habis tanpa bisa kaujelaskan. Apapun yang sedang kau lakukan, berusahalah untuk menjaga konsentrasi, sebab sekali saja kau lengah dan memutuskan membuka sosial media, hancurlah kau digilas kenyataan dari masa-masa terlewatkan.


sebuah senja berujung luka

Bagaimana tidak? Seseorang yang dengan merdunya sering mengeluh manja itu kini semakin gencar memberitahu dunia akan kebahagiaannya. Lewat pose ngelendot lucu muncu-muncu di bahu, selfie di pantai dengan bias kekasih baru di kacamata yang seakan-akan tidak sengaja, atau foto resmi gaya lembar ijazah dari sang lelaki dan sang perempuan yang ditata sebelahan di meja kantor dengan bumbu caption mau menikah. Ya, seseorang yang pernah kau antarkan ke burjo malam-malam, menemani dia belanja dari pagi buta, mengelus punggungnya saat homesick itu kini tengah tersenyum menuju mahligai rumah tangga.

Kepada yang utuh namun rapuh tegar tetapi hambar..

Sedang apa? Sudah makan? Semalam tidur jam berapa? Nanti ada waktu? Jangan sibuk banget ih! Mau ketemu, aku rindu! Tidak, kau tidak perlu menjawabnya. Aku hanya ingin mengingatkan bahwa rutinitas di pesan masuk ponselmu itu sudah musnah. Kau hanya bisa membacanya sebagai kesombongan semu yang kau gunakan untuk menjawab pertanyaan teman-teman. Mau seakrab apapun kau kini dengan mantanmu tetap saja dia sudah bukan milikmu, mau serenggang apapun hubunganmu sekarang tetap saja dulu dia yang paling kau sayang. Ikhlas belum bisa, balikan takut binasa.

Kau mulai menuju kafe atau kedai kopi atau pasar malam atau antrian BPJS atau apapun itu asal ramai dan bisa meredakan sepi di benakmu saat ini. Karena ke gunung kau malas packing, ke pantai kena panas langsung pusing, ke luar negeri belum fasih berbahasa asing. Tragis. Setiap ruang ingin kau jelajahi lebih jauh, berharap temukan keajaiban yang membuat sakit hatimu sembuh. Namun apa daya, jelajah langkahmu hanya membawamu kembali ke rentetan panjang memori. Depan gerbang kostan yang menampung keriyaan sehabis menikmati konser, atap toko yang kau gunakan untuk berteduh sehabis menonton film di bioskop, juga sekre hima/unit yang jadi saksi kangen-kangenan berkedok tanya jawab basa-basi tentang kepanitian. Kau tidak bisa pergi, kenangan itu akan terus menyapamu lagi dan lagi.

Kepada yang pingine move on malah mati alon-alon..

Begitulah beberapa contoh secuil kisah dari hati yang belum mampu berpindah. Satu masa yang justru selalu kita hindari. Kita lupa untuk menikmatinya, kita terlalu sibuk menolak semua hal yang merenggut bahagia. Santai saja, aku pun turut merasakan hal yang sama. Bingung mau kemana, membuka sosial media hanya cemburu yang menyapa, mendekati sosok baru tak tahu harus memulai dari mana. Payah! Tos dulu lah! :')

Namun pernahkah kau membayangkan suatu hari penantianmu akan berhenti, doa-doamu terkabul, sosok itu datang dan jauh lebih baik dari semua khayalanmu selama ini. Datang dengan kesopanan, membawa ketentraman, memelukmu dalam rasa nyaman. Seikat bunga? Seladang penuh dia persembahkan wanginya! Kau mengusap matamu terus menerus hingga kelopak matamu perih oleh bahagia. Dia nyata, benar-benar nyata! Sakit di hatimu sembuh, hidupmu kembali utuh. Langit berubah merah muda, menaungimu dalam kelembutan awan, kemudian jatuh lewat tetes demi tetes senyuman. Asyik ya?

Asyik ndasmu.

Memangnya kamu sudah merasa pantas mendampingi dia? Mandi saja malas, kamar berantakan, tissueberserakan. Begitu yang namanya siap? Setelah resmi yang-yangan kau dan dia akan berbagi muka di setiap unggahan sosial media loh, memangnya kamu sudah siap menurunkan gengsi? Sungguh suatu hal yang menyebalkan bila setelah berpasangan namun yang kau unggah tetap selfie-selfie goda sana sini. Asli. Ingat;Irama akan merdu jika ada keteraturan, kematangan komposisi, juga musik yang berpadu serasi. Kamu? Sudahkah berpadu dari pikiran, tubuh, sampai perasaan dalam keserasian harmoni lewat komposisi matang tanpa bayang-bayang?

Maka bersatulah kaum patah hati. Sebelum matahari meruntuhkan mendung di matamu, ingatlah kita pernah sama-sama bingung menentukan hidup kemana harus menuju. Jangan lupakan orang-orang yang selalu ada di setiap kau meneteskan air mata. Berterima kasihlah kepada para musisi atas lagu-lagu sendu ciptaannya yang tak pernah absen mengisi sepi. Cium tangan para barista yang lewat racikan kopinya membuatmu mampu melewati hari tanpa perlu minder akan pahit yang hinggap di hati. Peluk erat buku-buku kesayangan yang setiap kata bijaknya membuatmu bisa sejenak menunda luka. 

Karena suatu hari yang pergi akan digantikan, 
saat lalu telah kau ikhlaskan dan hatimu dipenuhi kesiapan.

Kepada kita semua, mari bersulang lara, mari berbagi tawa...